Budaya dan Pembagian Peran Berdasarkan Gender

Oleh: Soe86

Wacana ini sampai sekarang masih menuai kontroversi yang dapat kita simak di berbagai media, terutama buku-buku yang membahas soal gender. Kontroversi ini terutama disebabkan oleh perbedaan budaya yang dianut oleh setiap penganut aliran tertentu.

Harus dipahami bahwa setiap kelompok sosial/masyarakat memiliki budaya tertentu yang mana dapat sangat berbeda dengan budaya kelompok sosial yang lain. Perbedaan ini berimplikasi pada perbedaan pandangan yang dimilikinya. Hal itu bersumber dari serangkaian proses pembelajaran yang dimulai sejak manusia itu dilahirkan. Pada lingkungan mana seseorang dilahirkan dan melalui proses pembelajaran apa yang dilaluinya itu sangat berpengaruh terhadap budaya yang dimilikinya.

Berdasarkan mata pencahariannya, masyarakat dapat dikategorikan dalam beberapa kelompok, yaitu masyarakat petani, masyarakat nelayan dan lain sebagainya. Dan yang lebih penting adalah, orang-orang yang tergabung dalam suatu institusi ilmiah (misalnya lembaga penelitian) juga memiliki budaya tertentu yang mana dapat berpengaruh pada cara pandang mereka terhadap lingkungan yang dihadapi. Oleh karena itu, tidak satu pun pendapat yang betul-betul bebas nilai.

Pada kesempatan ini, penulis akan membahas suatu pertanyaan, bagaimana perbedaan budaya dapat berpengaruh terhadap pembagian peran berdasarkan gender? Dan, bagaimana perbedaan budaya ini berpengaruh terhadap cara pandang seorang ilmuan dalam mengkaji fenomena perbedaan peran berdasarkan gender tersebut?

Pertama, bagaimana perbedaan budaya dapat berpengaruh terhadap pembagian peran berdasarkan gender? Sebelum kita menjawab pertanyaan ini, terlebih dahulu kita harus memahami konsep budaya itu sendiri. Meskipun definisi budaya belum mencapai kesepakatan, akan tetapi sesungguhnya memiliki kesamaan, yaitu sesuatu yang dimiliki bersama oleh suatu masyarakat, baik itu berupa pola perilaku maupun sistem pengetahuan. Budaya bukan sesuatu yang dimiliki begitu saja tanpa mengalami proses tertentu, melainkan sesuatu yang dimiliki melalui proses belajar sejak seseorang dilahirkan. Proses pembelajaran adalah hal yang paling penting dalam pembentukan budaya, sehingga budaya yang dianut oleh seseorang sangat tergantung dari proses budaya yang dilaluinya.

Jika budaya adalah hasil dari suatu proses pembelajaran, maka sangat jelas bahwa budaya suatu kelompok sosial tertentu akan berbeda dengan budaya dari kelompok yang lain. Tidak semua orang memiliki proses pembelajaran yang sama, yang mana hal ini berimplikasi terhadap cara pandang dan pola perilaku mereka. Lingkungan yang dihadapi oleh suatu masyarakat dapat berbeda dengan lingkungan yang dihadapi oleh masyarakat yang lain. Lingkungan tersebut dapat berupa lingkungan sosial maupun lingkungan alam. Masing-masing lingkungan memiliki "tantangan" tersendiri sehingga menciptakan proses pembelajaran yang berbeda-beda. Hal ini merujuk pada pendefinisian konsep budaya dari aliran fungsionalisme, bahwa budaya merupakan sesuatu yang memiliki fungsi dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat penganutnya. Dengan demikian, budaya tertentu tidak akan dianut oleh suatu masyarakat jika menurut pandangan mereka budaya tersebut tidak memiliki fungsi atau tidak memenuhi kebutuhan mereka. Jadi, budaya akan mengalami perubahan jika dianggap tidak sesuai lagi dengan kebutuhan masyarakat penganutnya.

Konsep lain yang penting dipahami adalah konsep peran gender itu sendiri. Peran gender merupakan peran yang dimainkan oleh kaum laki-laki maupun kaum perempuan yang dikonstruksi secara sosial budaya. Peran yang dimainkan oleh kaum perempuan di Papua misalnya berbeda dengan peran yang dimainkan oleh kaum perempuan di Jawa. Inilah yang disebut dengan peran gender. Perempuan di daerah Mandar misalnya, mengangkat air dengan cara memikul sementara laki-laki biasanya menjinjing. Pada masyarakat yang lain, yang nampak justru bertolak belakang, yang mana perempuan menjinjing dan laki-laki memikul. Sementara peran seks merupakan peran yang dimainkan berdasarkan seksualitas, misalnya menyusui, melahirkan, menstruasi, menghasilkan sperma dan sebagainya. Jadi, peran gender sangat berbeda dengan peran seks.

Dengan memahami konsep kebudayaan dan peran gender seperti di atas, maka kita akan mudah memahami bahwa pembagian peran berdasarkan gender dipengaruhi oleh budaya yang dianut suatu masyarakat. Proses pembelajaran yang berbeda-beda antara suatu masyarakat dengan masyarakat yang lain melahirkan pula perbedaan budaya, yang mana hal ini berimplikasi terhadap pembagian peran berdasarkan gender. Masyarakat yang diperhadapkan pada lingkungan tertentu, misalnya nelayan, akan memiliki perbedaan dalam hal pembagian peran dengan masyarakat yang lain. Pekerjaan menangkap ikan yang tidak memungkinkan dilakukan secara bersamaan dengan mengasuh anak melahirkan pembagian peran antara suami dengan istri (laki-laki dengan perempuan). Suami yang berangkat ke laut untuk melakukan penangkapan dan perempuan tinggal di darat untuk merawat anak, mempersiapkan makanan dan sebagainya.

Kedua, bagaimana perbedaan budaya ini berpengaruh terhadap cara pandang seorang ilmuan dalam mengkaji fenomena perbedaan peran berdasarkan gender tersebut? Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, perbedaan budaya berimplikasi pada pola perilaku dan cara pandang suatu masyarakat. Masyarakat petani memiliki cara pandang yang berbeda dengan para turis dalam melihat sawah. Bagi petani, sawah merupakan lahan sumber penghasilan dan harus dikelola dengan baik tanpa begitu memperhatikan nilai estetika. Sementara para turis memandang sawah sebagai suatu pemandangan alam yang sagat indah. Perbedaan cara pandang ini melahirkan pola perilaku yang berbeda, di mana petani akan bertindak untuk menggarap sawah dan turis akan bertindak berbeda, misalnya mengambil foto-foto sawah, melukisnya atau hal-hal yang tujuannya untuk memenuhi kebutuhannya akan rekreasi. Pada saat melihat hamparan sawah, petani akan berpikir tentang pada bagian mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu. Sementara para turis akan berpikir pada posisi mana dia harus berdiri agar dapat menikmati pememandangan sawah lebih indah.

Contoh perbedaan budaya antara petani dengan turis tersebut dapat pula terjadi antara para peneliti sosial dengan masyarakat yang ditelitinya. Ketika melihat fenomena pembagian peran gender, di mana istri hanya tinggal di rumah untuk memasak, mencuci, menjaga anak dan sebagainya sementara suami meninggalkan rumah untuk bekerja, bertemu dengan orang lain dan lain-lain, peneliti belum tentu dapat memahaminya seperti pemahaman yang dimiliki masyarakat yang ditelitinya. Bagi masyarakat bersangkutan, fenomena tersebut merupakan hal yang wajar. Sementara bagi peneliti, fenomena tersebut merupakan bentuk pembatasan peran untuk kaum perempuan, yang mana hal tersebut merupakan salah satu bentuk ketidakadilan.

Namun, tidak semua peneliti memiliki cara pandang demikian. Kita harus memahami bahwa di dalam ilmu pengetahuan, terdapat banyak cara pandang yang berbeda-beda menurut aliran pemikiran tertentu. Yang paling penting adalah, bagaimana kita menempatkan suatu cara pandang tertentu pada tempatnya. Bukannya memaksakan suatu pemikiran agar diterima oleh pihak lain. Nampaknya, pemahaman terhadap suatu fenomena budaya tertentu tidak dapat tercapai tanpa keterbukaan mengakui suatu perbedaan. Kita harus sadar konteks, dan mulai berhati-hati dalam menarik suatu kesimpulan yang universal.

Demikian tulisan ini, kritik dan saran dari para pembaca adalah hal yang paling dibutuhkan karena penulis menyadari bahwa kita adalah berbeda.

5 komentar

Anonim

mohon penjelasan yang lebih jelas tentang definisi budaya. budaya yang saya pahami di atas berbeda dengan budaya yang saya pahami. Bukankah budaya itu adalah sesuatu yang sifatnya seni dan adat istiadat?

Yohan Wibisono 17 Oktober 2010 20.13

Nice Article, inspiring. Aku juga suka nulis artikel bidang bisnis di blogku : http://www.yohanwibisono.com, silahkan kunjungi, mudah-mudahan bermanfaat. thx:k4

prayuza zafin 18 Oktober 2010 21.17

wah berat juga materinya sob, blm masuk levelku nih heheee
nice post, yg aku tau budaya itu akar bangsa dan mencoba selalu tuk melestarikan kebudayaan bukan berarti anti kebudayaan luar yah di saring yg positif2 nya aja..
thanks sob postingan yg menarik, semangat!!

faiz 20 Oktober 2010 19.43

Mntaf gan
:k4

warung info 20 Oktober 2010 22.33

budaya yang kolot untuk saat ini, gender bukan suatu halangan untuk melakukan suatu pekerjaan ataupun profesi orang, laki perempuan sama saja

Poskan Komentar